Legenda pulau sikantan labuhan bilik.

Tidak ada komentar 1083 views
example banner

Pulau Sikantan

LABUHANBATU, Riauandalas.com-Dahulu kala, ada seorang janda miskin yang tinggal bersama anaknya bernama Si Kantan. la adalah seorang pemuda yang tampan dan rajin. Sehari-hari, si Kantan bekerja membantu ibunya mencari kayu bakar di hutan.

Suatu malam, sang ibu bermimpi didatangi seorang kakek yang menyuruhnya pergi ke dalam hutan dan menggali di sebuah tempat. Sang ibu merasa aneh dengan mimpinya, ia pun menceritakan mimpinya itu kepada anaknya.

“Mungkin pesan kakek itu sebuah petunjuk, Bu. Sebaiknya kita coba melakukan apa yang disuruhnya,” ujar si Kantan pada ibunya.

Kemudian, ibu dan anak itu pergi ke dalam hutan. Di tempat yang telah ditunjukkan dalam mimpi itu, mereka menggali dengan menggunakan sebuah Iinggis. Setelah agak lama menggali, si Kantan mendapati sebuah benda yang dibungkus kain putih lusuh. Ternyata, benda tersebut adalah sebuah tongkat emas yang dihiasi deretan permata.

“ Lihatlah, Bu! Benda ini sangat berharga. Lebih balk kita bawa pulang saja,” seru si Kantan.

“Iya, Nak. Semoga ini petunjuk dari Yang Maha Kuasa agar kehidupan kita lebih baik lagi,” sahut ibunya.

Sesampainya di rumah, ibunya menyarankan si Kantan untuk menjual tongkat tersebut dan hasilnya digunakan untuk memperbaiki kehidupan mereka.

“Daerah kita ini daerah miskin, siapa yang mampu membeli benda berharga ini, Bu?” ujar si Kantan.

“Kau benar, Nak. Pergilah ke pulau lain untuk menjualnya” kata sang ibu.

Si Kantan pun setuju. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan ibunya yang sudah tua itu.

“Kembalilah segera setelah kau berhasil menjualnya, Nak”. pesan ibunya.

Si Kantan mengayuh sebuah tongkang menyu suri Sungai Barumun menuju daerah Malaka. Sesampainya di sana, tidak ada seorang pun saudagar yang sanggup membeli tongkat berharga tersebut.

Seorang saudagar menyarankannya untuk menjual tongkat tersebut kepada raja. Si Kantan pun pergi menghadap raja untuk menawarkan benda yang dibawanya.

Raja sangat terkesan dengan tongkat emas bertahtakan permata itu. “Benda ini sungguh indah. Aku ingin sekali memilikinya. Namun, aku tidak akan membelinya dengan uang. Sebagai gantinya bagaimana jika kau tinggal di sini dan kunikahkan dengan putriku?”

Putri raja sangat cantik. Si Kantan pun menerima tawaran raja. Lalu, mereka menikah dengan pesta yang sangat megah. Si Kantan yang hidup serba berkecukupan pun terlena dan melupakan ibunya.

Suatu hari, istri si Kantan ingin sekali melihat kampung halaman suaminya dan bertemu dengan ibu si Kantan. Semula, si Kantan menolaknya. Namun, karena istrinya terus mendesak akhirnya ia pun membawa istrinya pergi menuju kampung halamannya. Dengan sebuah kapal besar, mereka berlayar menuju Pulau Sumatra. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, akhirnya kapal mereka merapat di kota Labuan Bilik yang Ietaknya di muara Sungai Barumun.

Penduduk setempat berbondong-bondong menyaksikan sebuah kapal megah yang merapat di Labuan Bilik. Mereka ingin sekali mengetahui siapa pemilik kapal itu.

“Bukankah itu si Kantan? la sudah menjadi saudagar kaya raya sekarang!” kata salah seorang penduduk ketika melihat sosok yang berdiri di atas kapal tersebut.

Berita kedatangan si Kantan sampai ke telinga ibunya yang sudah mulai sakit-sakitan. Sang ibu bersusah-payah mendayung tongkang menuju muara Sungai Barumun. Hatinya gembira ketika mendengar bahwa anaknya telah datang.

Ketika melihat kapal besar itu, ibu si Kantan berusaha mendekati kapal tersebut dengan perahunya.

“Kantan! Ini Ibu, Nak!” teriak sang ibu ketika melihat si Kantan dan istrinya di atas kapal.

Melihat seorang perempuan tua dengan pakaian compang-camping memanggil namanya, si Kantan berpura pura tidak mengenalnya.

“Kanda, siapa ibu itu? la memanggil namamu,” ujar istri si Kantan, “Apakah ia ibumu?”

“Mana mungkin perempuan kumal itu ibuku, Dinda. Ibuku cantik dan muda!” ujar si Kantan dengan angkuhnya, “Itu mungkin hanya orang saja mengaku-aku sebagai ibuku!”

Ibu rindu kepadamu, Nak,” teriak ibunya sambil menangis menahan haru dan rindu kepada putranya.

“Pengawal! Usir perempuan tua itu dari sana! Jangan biarkan ia naik dan mengotori kapal ini!” perintah si Kan (penulis : Fendi Harahap)