PHR Dorong Peran Remaja dalam Pencegahan Stunting

251 views

PEKANBARU,Riauandalas.com–Program pencegahan stunting PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Provinsi Riau dirancang untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Kegiatannya tak hanya mencakup para orang tua, tapi juga kalangan remaja. Terobosan ini bertujuan mencegah stunting sejak dini atau hulu melalui peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan kepedulian terhadap isu ini di kalangan remaja –sebagai para calon orang tua– agar terwujud generasi masa depan yang bebas stunting.

PHR bekerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Riau menggelar workshop bertemakan ”Saatnya Remaja Berperan dalam Pencegahan Stunting” di Pekanbaru pada Selasa (30/8). Sekitar 130 siswa dan mahasiswa dari sejumlah sekolah menengah atas, perguruan tinggi, maupun sekolah tinggi kesehatan hadir dalam kegiatan tersebut. ”PHR merupakan salah satu perusahaan di Riau yang sangat peduli terhadap upaya pencegahan stunting. Kami berharap kontribusi PHR menjadi dorongan bagi perusahaan lainnya untuk membantu pemerintah dalam konvergensi upaya pencegahan stunting,” ujar Asisten I Setdaprov Riau Masrul Kasmy. Saat ini, prevalensi stunting di Riau sekitar 22 persen. Pemerintah menargetkan angka itu turun menjadi 14 persen pada 2024.

Program pencegahan stunting ini merupakan salah satu Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PHR di bidang kesehatan. PHR bekerja sama dengan PKBI Riau yang menjadi mitra pelaksana program. Tahun ini, PHR WK Rokan akan menjalankan program pencegahan stunting di 57 Posyandu di empat kabupaten di Riau, yakni Bengkalis, Kampar, Rokan Hilir, dan Siak. Kegiatan utamanya antara lain, pemberdayaan lebih dari 100 kader posyandu; pelaksanaan kegiatan rutin bulanan posyandu; promosi dan sosialisasi kesehatan; serta pemberian makanan tambahan dan pemberian peralatan pendukung seperti alat timbang berat badan dan pengukur tinggi badan. Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan status gizi pada Ibu hamil dan bayi di bawah dua tahun dengan mobilisasi Posyandu.

”Stunting akan berdampak besar bagi generasi mendatang apabila tidak ditangani dengan baik. Kita semua tentu ingin memberikan tongkat estafet pembangunan kepada generasi yang sehat dan kuat agar Indonesia semakin maju dan sejahtera,” tegas VP Corporate Affairs PHR WK Rokan Sukamto Tamrin. Tampak juga hadir dalam acara pembukaan workshop adalah Said Masri dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Riau dan Valerina dari SKK Migas Sumbagut.

Remaja merupakan kelompok potensial yang bisa dilibatkan dalam berbagai program pencegahan sejak dini karena stunting adalah sebuah siklus. ”Jika calon ibu punya asupan gizi kurang sejak remaja, maka akan berisiko mempunyai anak kurang gizi dan anak akan mencontoh pola makan ibunya,” papar Ketua Pengurus Daerah PKBI Riau Khairunnas. Karena itu, lanjut dia, remaja harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mumpuni untuk meningkatkan kepedulian mereka terhadap isu stunting.

Program pencegahan stunting selaras dengan program pemerintah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/ Daerah (RPJMN/ RPJMD) tahun 2019-2024 dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDGs).


Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan penghargaan kepada PHR sebagai Juara ke-3 Nasional kategori donatur dengan jumlah donasi terbanyak dalam Gerakan Bapak Asuh Anak Stunting. Penghargaan diserahkan melalui Gubernur Riau bertepatan acara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29 Provinsi Riau di Gedung Daerah Balai Serindit, Pekanbaru, pada Juli lalu. Sebelumnya di tingkat lokal, kepedulian PHR terhadap upaya pencegahan stunting juga pernah mendapatkan penghargaan dari Bupati Siak pada akhir Maret lalu.

PHR bekerja sama dengan PKBI Riau, sebagai menjadi mitra pelaksana program, melaksanakan kegiatan utamanya antara lain, pemberdayaan lebih dari 100 kader posyandu; pelaksanaan kegiatan rutin bulanan posyandu; promosi dan sosialisasi kesehatan; serta pemberian makanan tambahan dan pemberian peralatan pendukung seperti alat timbang berat badan dan pengukur tinggi badan. Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan status gizi pada Ibu hamil dan bayi di bawah dua tahun dengan mobilisasi Posyandu.(rilis/hen)**

Tidak ada Respon

Komentar ditutup.