Dandim Kediri Menghadiri Sarasehan Bersama Tokoh Lintas Agama

 
KEDIRI, Riau Andalas. com – Sarasehan bersama tokoh masyarakat, tokoh lintas agama, Kepala Kelurahan, dan LPMK se-Kecamatan Kota, berlangsung di Gedung ABRI atau tepatnya di areal Makoramil 01/Kota. Sarasehan tersebut juga dihadiri Dandim Kediri, Letkol Arm Joko Setiyo Kurniawan, Walikota Kediri, Abdullah Abubakar, Danramil Kota, Kapten Inf Harmadi, Kapolsek Kota, AKP Totok Widarto, dan Camat Kota, Herry Purnomo, Jumat (24/02/2017).
 
“Mencari persamaan jauh lebih penting daripada mempermasalahkan perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Apalagi sejak dulu, bangsa ini sudah melekat dengan segala kemajemukan dan itu dapat dibuktikan melalui peninggalan-peninggalan bersejarah yang bisa dilihat atau dipelajari. Jangan sampai karena perbedaan, bangsa ini terseret arus permusuhan yang pada akhirnya mengarah pada ujung pertikaian, “kata Letkol Arm Joko Setiyo Kurniawan diawal pembicaraannya. 
 
Dari FKUB Kecamatan Kota, hadir H. Salim dari Islam, Pdt.Timotius Kabul dari Kristen Protestan, Rm.Johanes Sukaryo dari Kristen Katholik, Waluyo Suwigjo dari Budha, Ramijan dari Hindhu, Bambang Suprayitno dari Khonghuchu, dan Partono dari Penghayat. Selain itu, seluruh Babinsa dan Babinkamtibmas,  juga turut hadir di acara ini,  berbaur dengan undangan yang lainnya. 
 
“Kediri mempunyai history yang tidak dapat terpisahkan dengan kondisi saat ini, yaitu menghargai dan menghormati serta menjunjung tinggi pluralisme. Kerukunan antar umat beragama berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial masyarakat dan komunikasi satu dengan yang lainnya sama sekali tidak ada pembatas. Warga Kediri sangat menjaga segala perbedaan itu ,tanpa harus bertabrakan dengan keyakinannya masing-masing,” kata Abdullah Abubakar. 
 
Kapten Inf Harmadi menegaskan, buah dari segala konflik berawal dari akar kebencian, kemunafikan, pembodohan, kebohongan serta mau menangnya sendiri atau menganggap semua orang selalu salah dan dirinya selalu benar. Jadi kalau ingin kedamaian berada di tengah-tengah masyarakat, maka toleransi antar umat beragama yang berpedoman pada Bhinneka Tunggal Ika adalah solusi satu-satunya. (Penrem 082/CPYJ)