Hukum&KriminalInternasional

Duterte Pernah perintahkan mengebom masjid dan membunuh banyak Muslim di Davao pada tahun 1993.

573013818d949-kandidat-kuat-presiden-filipina-rodrigo-duterte_663_382

MANILA, Riau Andalas.com – Seorang saksi membeberkan “dosa-dosa” Presiden Filipina Rodrigo Duterte di masa lalu dalam sebuah Sidang Komite Senat untuk Keadilan dan HAM, Kamis (15/9). Saksi yang merupakan mantan anggota Davao Death Squad (DDS) mengaku diperintah oleh Duterte mengebom masjid dan membunuh banyak Muslim di Davao pada tahun 1993.

Saksi yang mengungkap perintah Duterte itu bernama Edgar Matobato. Menurutnya, pada tahun itu Duterte masih menjabat sebagai Walikota Davao. Saksi itu dihadirkan oleh Senator Leila de Lima yang sebelumnya berseteru dengan Duterte.

Matobato mengatakan dia dulunya anggota Citizen Armed Force Geographical Unit (CAFGU) sampai Duterte menjadi Walikota Davao pada tahun 1988. Dia kemudian direkrut Duterte untuk bergabung dalam kelompok yang dijuluki “Lambada Boys”. Kelompok ini, katanya, hanya berjumlah tujuh orang termasuk dirinya.

”Pekerjaan kami membunuh penjahat seperti pengedar narkoba, pemerkosa, penjambret,” tambahnya.

Motabato mengatakan, kelompok “Lambada Boys” ini kemudian menjadi DDS, kelompok yang telah lama diyakini bertanggung jawab atas pembunuhan di luar hukum di Davao.

Pada tahun 1993, lanjut Matobato, lebih banyak anggota yang bergabung dengan kelompok DDS. Pada tahun itu,  Gereja Katedral Davao juga dibom.

”Walikota Duterte memberikan banyak perintah kepada mereka; warga Muslim di Masjid dibunuh,” bebernya, seperti dikutip Inquirer.

”Jadi, Anda telah mengebom, Anda diperintahkan Walikota Duterte. Apakah itu mantan walikota Davao?,” tanya de Lima.

Motabato menjawab; “Ya” dan menambahkan bahwa dia berada di ruangan yang sama ketika Duterte memerintahkan pengeboman.

Senator itu bertanya lagi, mengapa Duterte ingin mengebom Masjid?. Matobato menjawab: “Ya, tampaknya seperti pembalasan atas dibomnya Katedral.”

Menurut Matobato, saat itu Duterte juga memerintahkan DDS untuk menangkap dan membunuh para warga Muslim yang dicurigai terlibat pengeboman Gereja Katedral Davao. ”Kami melihat Muslim disana, kami membunuh, kami menguburnya,” ujarnya.

Dalam sidang Komite Senat itu, saksi juga mengungkap bahwa Duterte juga pernah memerintahkan untuk membunuh jurnalis dan para lawan politiknya.

Presiden Duterte maupun pihak Malacanang (Istana Kepresidenan) belum berkomentar atas pembeberan saksi dalam sidang itu. (sumber:sindo.news)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *