Lima Pilar Ketahanan Sebuah Bangsa Oleh : Dede Farhan Aulawi

example banner

JAKARTA, Riauandalas.com – Ketika berbicara tentang ketahanan, biasanya persepsi orang menggambarkan tentang senjata, kendaraan tempur dan berbagai perlengkapan tempur lainnya. Tentu tidak salah karena begitulah gambaran istilah “pertahanan/ ketahanan” yang banyak dipahami selama ini. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dimana dimensi berbagai persoalan semakin meluas maka variable pertahanan dan ketahanan suatu bangsa juga bertambah. Dimensi pertahanan yang diilustrasikan dengan kemampuan gelar kekuatan militer dalam menghadapi infiltrasi musuh juga semakin meluas, karena dimensi peperangan saat ini bisa terjadi dalam berbagai kontek.

Sebagai ilustrasi dulu peperangan dianggap satu – satunya alternative untuk menguasai suatu wilayah/ teritori yang dikehendaki. Umumnya karena pertimbangan untuk menguasasi sumber daya alam di teritori yang dimaksud. Dengan kekuatan militer yang dianggapnya kuat, lalu menggerakan pasukan untuk melakukan pendudukan atau penjajahan. Dalam praktik tentu akan ada perlawanan dari pihak yang merasa diduduki/ dijajah, maka timbullah apa yang namanya peperangan.

Saat ini dimensi pertahanan bukan hanya itu, karena format serangan tidak semata – mata dengan menggerakan kekuatan militer. Salah satu format yang banyak terjadi saat ini, misalnya serangan arus modal yang bernama investasi. Dengan alas an “investasi” itulah sumber daya alam suatu negara bisa dikuasai oleh pemodal yang notabene bisa dari bangsa lain. Dalam kontek ini, substansi penguasaan teritori dengan menguasai sumber dayaalamnya tercapai, tanpa harus menggunakan kekuatan militer yang bisa menimbulkan peperangan. Jadi peperangan saat ini, bisa terjadi dalam pertempuran militer, pertempuran ekonomi, dan lain – lain. Oleh karena itu model pengembangan strategi pertahanan dan ketahanan pun bisa berubah.

Pada kesempatan ini, mari memahami ilustrasi sebuah terminologi Ketahanan Kontemporer yang berbasis pada fakta persaingan antar bangsa saat ini. Tanpa harus menguasai wilayahnya, tapi tetap bisa menguasai sumber dayanya.

Sesungguhnya ada 5 pilar ketahanan sebuah bangsa yang mau tidak mau, siap ataupun tidak siap tetap harus dipersiapkan, yaitu :

1. Ketahanan Militer.
Meskipun probabilitas persaingan dengan menggunakan kekuatan militer cenderung semakin kecil, tetapi tetap tidak bisa dinafikan bahwa kemungkinan perang itu akan selalu ada. Oleh karena itulah sering bicara soal gelar kekuatan militer, baik gelar kekuatan matra darat, matra laut maupun matra udara. Di sini bicara soal postur kekuatan, mulai soal alokasi anggaran militer, jumlah personil militer, dan komposisi persenjataan yang dimiliki. Mulai dari senjata ringan sampai senjata berat, bahkan sampai senjata yang memiliki hulu ledak nuklir. Termasuk pengembangan model – model bom kimia dan biologi. Begitulah setiap bangsa terus berlomba membuat persenjataan dengan teknologi mutakhirnya, bahkan seringkali sengaja dipertontonkan sebagai show of force. Padahal di saat yang bersamaan, berbagai lembaga dan komunitas internasional mengadakan seminar, FGD, konferensi dan sebagainya untuk bersatu membuat peradaban dunia yang aman dan damai. Sebuah anomali fakta yang sulit dibantahkan.

2. Ketahanan Pangan.
Luas daratan lama kelamaan semakin mengecil. Bisa karena erosi sungai, abrasi laut, maupun pemanasan global yang menyebabkan mencairkan es di kutub bumi. Volume air laut meningkat dan daratanpun sedikit demi sedikit terendam. Di saat yang bersamaan populasi manusia terus bertambah yang praktis menyebabkan peningkatan kebutuhan akan pangan dan kebutuhan lahan untuk tempat tinggal terus meningkat. Di sini hukum ekonomi akan berlaku, yaitu saat supply berkurang sementara demand meningkat, maka harga – harga otomatis akan mahal. Lihatlah fakta empirik dimana harga – harga sembako semakin mahal. Lihat juga realitas bahwa harga tanah di berbagai daerah semakin mahal. Harga mahal kalau diimbangi dengan peningkatan daya beli tentu tidak masalah. Tetapi harga mahal saat daya beli.(Pendi/Waka)**

Tag: