15 MDTA Di Rohul Terpaksa ” Di Tutup ” Sebab Tidak Ada Lagi Biaya Operasional

ROKAN HULU, Riau Andalas. com – Kini nasib ke 2.059 guru Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) memperhatinkan. Sejak dua tahun terakhir, mereka tidak lagi mendapat bantuan hibah untuk gaji serta biaya operasional dari Pemerintah Kabupaten Rohul.

 

Bahkan, dari 348 MDTA yang tersebar di 16 kecamatan se-Rohul, saat ini 15 MDTA ditutup alias tidak lagi melaksanakan aktifitas belajar mengajar dibidang agama pada sekolah Non Formal yang dua tahun sebelumnya mendapat bantuan hibah dari pemerintah daerah.

Diakui Ketua Forum Komunikasi Diniyah Taklimiyah (FKDT) Kabupaten Rohul, Saparuddin S.PdI, Rabu (26/4/2017) sore mengatakan, kini ada 2.059 guru MDTA se-Rohul mengeluhkan tidak tidak adanya perhatian pemerintah daerah membantu dana operasional MDTA, terhitung tahun 2016 sampai kini.

Mengingat selama ini, honor guru MDTA dibantu Pemkab Rohul, akan tetapi sejak tahun 2016 guru MDTA tidak lagi menerima honor karena tidak ada dialokasikan hibah bantuan operasional MDTA.

Sedangkan bantuaan swadaya masyarakat dari dana SPP MDTA, hanya Rp150.000 per bulannya. Dari besaran dana SPP itu, sangat tidak layak dan jauh dari batas upah minimum rata-rata.

Saparuddin mengatakan , ada beberapa MDTA yang kini tidak beroperasi lagi karena tidak mampu membiayai operasional sekolah dan honor guru seperti 4 MDTA di Kecamatan Tambusai Utara , 2 MDTA di Kecamatan Bangun Purba, 1 MDTA di Kecamatan Rambah Hilir, 4 MDTA di Kecamatan Rambah Samo.

“MDTA selama ini beroperasi menghandalkan bantuan hibah operasional dari Pemkab Rohul. Sehingga ke siapa lagi kami mau mengadukan kondisi ini. Tidak terbayarnya honor guru MDTA, sangat berpengaruh buruk terhadap pendidikan Agama di Rohul,’’ tegasnya.

Kemudian sebutnya lagi, dari data ujian akhir MDTA tahun 2015/2016 jumlah peserta yang ikut ujian akhir sejumlah 5.845 orang. Sementara, di ujian akhir MDTA tahun 2016/2017 tinggal menjadi 5.489 orang saja.

“Seharusnya semakin tahun minat masyarakat memesukan anaknya ke MDTA kian tinggi, jika ini tidak diperhatikan serius, maka kuatir menurunnya pendidikan di bidang agama bagi anak tingkat SD di Rohul,’’ katanya.

Sebagai wadah aspirasi Guru Diniyah, lanjutnya, FKDT Rohul juga telah menyampaikan keluhan dan aspirasi para guru MDTA, ke Komisi I DPRD, Kantor Kemenag Rohul, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga bahkan ke Plt Bupati Rohul, H Sukiman, terkait isentif guru MDTA yang tidak dibayarkan dari tahun 2016 hingga saat ini.

Smentara, guru MDTA tugasnya mengajar serta mendidik putra dan putri Rohul di sekolah Non Formal telah dilakukan. Namun untuk honor guru MDTA belum disalurkan.

‘’Kita berharap, Pemkab dan DPRD Rohul bisa mencarikan solusi yang terbaik dalam mempertahankan keberadaan MDTA di Rohul agar tetap beroperasi. Karena sudah belasan MDTA yang tutup. Bagaimana MDTA se Rohul bisa beroperasi dengan dialokasikannya bantuan operasional seperti tahun 2015 lalu.”

“Karena, di kabupaten lain di Provinsi Riau seperti Kabupaten Bengkalis, guru MDTA mendapat bantuan insentif dari pemerintah,’’ ucapnya tegas. *** ( Alfian )