15 Game Berbahaya Untuk Anak. Disdikbud Riau minta peran orang tua dan Pemerintah

example banner

disdik
PEKANBARU,Riau Andalas.com-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merilis 15 game berisi kekerasan dan berbahaya untuk anak-anak. Pasalnya, permainan tersebut sangat berbahaya pada psikologi anak yang cendrung untuk melakukan apa yang telah di lakukan dalan permainan game. Diantaranya tindakan kekerasan dan lainya yang merugikan pada anak-anak lainya atau anak itu sendiri.

Adapun permainan 15 permainan game yang dimaksud, adalah World of Warcraft, Call of Duty, Point Blank, Cross Fire, War Rock, Counter Strike, Mortal Combat, Future Cop, Carmageddon, dan Shelshock. Kemudian Raising Force, Atlantica, Conflict Vietnam, Bully, dan yang tak kalah populer Grand Theft Auto (GTA) yang saat ini tersedia disetiap warnet. Pada hal sesuai pengumuman, permainan game itu tidak boleh dimainkan anak-anak yang setiap cover game-game tersebut sudah tertera batas usia yang diperbolehkan. Diantaranya, game GTA yang tertulis rating M (mature/17+) yang artinya hanya boleh dimainkan anak diatas usia 17 tahun.

Sementara sesuai yang ditemukan dilapangan saat ini, rata-rata permainan game itu dimainkan anak-anak dibawah usia 17 tahun atau amasih banyak dibangku Sekolah Dasar (SD) yang jauh lebih cendrung terancam terpengaruh prilaku dalam permainan game tersebut.

Menurut Direktur Indonesia Herritage Foundation (IHF) Wahyu Farrah Dina, salah satu cara untuk mengatasi anak-anak lepas dari kecanduan permainan game berbahaya tersebut. Diantaranya, memberikan jadwal kegitan pengganti game pada anak, atau bisa bisa juga memberikan kegiatan kesibukan yang lebih positif pada anak. Sehingga anak-anak lambat laun bisa lupa dari pengaruh game.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau Dr H Kamsol MM, menyatakan, meskipun belum mendapat arahan dari Kemendikbud terkait bahaya permainan game itu, ia mengakui jika permainan game yang dimainkan anak-anak sekarang memang sudah jauh berbahaya. Bahkan, akibatnya sudah mewabah kesetiap anak-anak yang usia dini mulai tingkat SD yang dikhawatirkan makin berpengaruh pada pendidikan kedepannya nanti.

Menurutnya, kebebasan anak selama ini dalam bermain game tersebut, juga salah satu faktor pada kegagalan pendidikan bagi siswa di Riau. Salah satunya putus sekolah karena sudah malas sekolah yang daya fikirnya sudah terpengaruh permainan game. Yang artinya psikologis anak sudah terpengaruh dengan game.

Lebih jauh kata Kamsol, sebelumnya, permainan game yang ada saat ini sudah pernah ditegaskan para pakar psikologis. Jika kecendrungan game itu sangat mempengaruhi emosional anak-anak. Dimana anak-anak menjadi ketagihan yang mempengruhi psikologis. Sehingga mereka yang telah terpengaruh itu akan cendrung menjadi kasar, pemarah, pemurung. Sehingga mengganggu pada perkembangan emosional kedepan.

“Untuk mengantisipasi ini, disinilah sangat dibutuhkan peran orang tua. Kalau bisa mengarahkan kebiasaan anak itu dengan kegiatan lain yang lebih positif. Sehingga mereka memiliki kesibukan sendiri yang berarti,” jelas Kamsol.

Memang kata Kamsol, untuk mengantisipasi ini juga tidak cukup bagi para orang tua, tapi juga butuh dukungan pemerintah. Terutama pihak sekolah yang bisa mengarahkan anak-anak akan bahaya-bahaya dari permainan game itu. Begitu juga dengan pemerintah daerah, yang bisa terus memberikan pembatasan pada penyedia permainan game. Seperti warnet dan lainnya yang bisa untuk memberikan pembatasan pada tingat anak-anak.

“Saat ini seluruh permainan itu juga sudah tersedia online. Sehingga para anak-anak juga bisa bermain kapan saja. Untuk itu kita juga berharap peran pemerintah untuk bisa mengawasi permasalahan ini. Karena ini berhubungan dengan generasi kedepan,” tutur Kamsol. (Dri)***